Elga-Ahmad

Blog pribadi. Seorang pencinta bahasa & kopi krim!
#Didactique #FLE #BIPA #TICE #Interculturel #Grammaire

Katakan “ Y a pas photo ” ketika Anda tidak mempunyai keraguan sama sekali akan suatu hal! Ungkapan yang relatif baru tersebut mulai digunak...

Katakan “Y a pas photo” ketika Anda tidak mempunyai keraguan sama sekali akan suatu hal!

Ungkapan yang relatif baru tersebut mulai digunakan pada akhir abad ke-20, yakni ketika acara pacuan kuda berlangsung. Pada masa itu, kamera digunakan untuk memotret di garis akhir agar dapat menentukan peserta lomba yang tiba lebih dahulu, terutama jika para peserta berlari memacu kudanya secara berdekatan. Ketika seorang peserta tiba di garis tersebut dengan jarak yang jauh dari lawan di belakangnya, hal itu memudahkan juri untuk menentukan pemenang dan tidak memerlukan pengambilan foto. Tidak ada foto! (Il n’y a pas de photo!) – Tidak ada keraguan untuk memilih juara lomba. 

[Referensi]

ilustrasi oleh: AtixVector ‘Ponsel’ merupakan akronim dari telepon seluler dan telah menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia. Istilah...

mimpi
ilustrasi oleh: AtixVector

‘Ponsel’ merupakan akronim dari telepon seluler dan telah menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia. Istilah lain untuk menyebut ponsel adalah telepon genggam.
Ini adalah sebuah tulisan mengenai ponsel yang dibuat oleh dua produsen besar pada masanya. Ponsel ini, terus terang, pernah berada dalam daftar ponsel impian saya. Namun, kedua ponsel ini memang belum sempat dimiliki. Maklumlah, kala itu saya masih mahasiswa yang perlu menabung cukup lama untuk membeli sebuah ponsel baru. Hingga sekarang pun, saya belum pernah menggunakan produk telekomunikasi buatan perusahaan asal Jerman ini, Siemens. Sedangkan K630i adalah satu-satunya ponsel keluaran Sony Ericsson yang sempat saya gunakan pada awal perkembangan teknologi 3G di tanah air. Sementara itu, sekitar tahun 2003 ketika M55 dan T600 ini diluncurkan ke pasaran, saya memakai Nokia 3310 –kalau tidak salah ingat. Tipe seri ponsel ini disebut lebih ramah digenggam daripada sang pelopor, N3210 yang “Begitu kecil, begitu cerdas!”.

Siemens M55
Ponsel ini memiliki tampilan yang maskulin. Siemens juga menjanjikan bahwa M55 ini tahan terhadap air, debu, ataupun guncangan. Dengan kemampuannya bekerja pada jaringan 2G dengan frekuensi GSM 900/1800/1900 MHz, ponsel ini cukup handal menangkap sinyal. Layar warna merupakan daya tarik tersendiri pada waktu itu. M55 dibekali layar generasi kedua yang berjenis CSTN dengan kedalaman 4096 warna pada ukuran 101 x 80 piksel, 7 baris. 


Sony Ericsson T600
Saya suka ponsel ini, terutama karena ukurannya yang sangat kecil. Ya, itu saja!
Sebenarnya selain dimensinya tersebut, tidak ada fitur lain yang saya harapkan dari ponsel ini bahkan pada saat itu. Iklan ponsel ini sering saya temukan di majalah-majalah hampir sepanjang tahun. Ponsel ini juga bekerja pada jaringan GSM triple band, seperti M55 di atas. Karena tubuhnya yang kecil, layarnya pun mungil yaitu berukuran 101 x 80 piksel saja dengan tampilan monokrom.

#Nostalgia Smile

Baca juga:
Tentang Podcast

Generasi Z yang juga disebut Net Generation memilih untuk menikmati alunan musik melalui Deezer atau Spotify, daripada mengoleksi kepin...



Generasi Z yang juga disebut Net Generation memilih untuk menikmati alunan musik melalui Deezer atau Spotify, daripada mengoleksi kepingan CD album dari musisi dan penyanyi favorit mereka. Uber menggantikan secara perlahan layanan taksi konvensional. Memang, revolusi industri generasi keempat (4.0) telah mendorong terciptanya model-model bisnis yang baru di seluruh dunia, seperti disebutkan dalam dua contoh di atas. Pada prinsipnya, Revolusi Industri 4.0 adalah Internet of things, yaitu menginternetkan segala sesuatu dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Kumpulan esai ini merupakan cerminan dari keresahan kami–para penulis yang sekaligus juga sebagai dosen, peneliti, guru, mahasiswa, dan praktisi dalam bidang bahasa asing pada institusi-institusi berbeda yang tersebar di beberapa kota di Tanah Air, terhadap isu pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0 khususnya di Indonesia. Adapun cakupan pembelajaran bahasa asing yang dibahas dalam buku ini yakni bahasa Prancis, Jerman, Mandarin, Jepang, dan bahasa Inggris.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh para pelaku utama dalam pembelajaran bahasa asing di era Revolusi Industri 4.0? Bagaimana menghadapi dan menerima tantangan-tantangannya?

Para Penulis: Elga Ahmad Prayoga, Irma Nurul Husnal Chotimah, Karguna Purnama Harya,  Dewi Kartika Ardiyani, Diah Ayu Wulan, R. Januar Radhiya, dan Jaja Fatmaja

Informasi Buku: 
  • Jumlah halaman 176 termasuk sampul
  • Dimensi:  14.8 x 20,8 x 1,0 cm 
  • Dicetak pada kertas jenis book paper 
  • Dijilid dan disampul dengan menggunakan soft cover
  • Penerbit: Tulus Pustaka
  • Tempat Terbit: Cimahi (Jawa Barat)
  • Tanggal Terbit: Akhir November 2018
  • ISBN: 978-602-53514-0-2

Promosi dan Pemesanan di Awal: Untuk pemesanan buku di muka (sebelum rilis), klik pada tautan ini. Dapatkan harga khusus s.d. 3 Desember 2018. Jika tautan di atas tidak berfungsi, kemungkinan buku sudah tidak tersedia untuk dipesan.

Pembelian buku selanjutnya dapat juga dilakukan melalui Tokopedia. Dapatkan cashback 3% selama masa promosi! Klik pada logo berikut ini:
Tokopedia

Ketika seseorang datang pada saat yang tidak tepat dan merusak suasana , kita bisa mengatakan, “ Il est bien arrivé comme un chien dans un j...

Ketika seseorang datang pada saat yang tidak tepat dan merusak suasana, kita bisa mengatakan, “Il est bien arrivé comme un chien dans un jeu de quille”.

Idiom ini digunakan pertama kali pada abad ke-16 ketika permainan boling (jeu de quille) sangat tren di masyarakat. Pada permainan tersebut, peserta harus menggelindingkan bola ke arah deretan pion. Coba Anda bayangkan hal yang terjadi jika seekor anjing tiba-tiba lewat di depan pemain yang hendak melempar bolanya dan merusak susunan pion! Kemudian pada akhir abad ke-20, sebuah film berjudul “Un chien dans un jeu de quilles“ (Seekor Anjing di Permainan Boling)diputar di banyak bioskop Prancis.

Ungkapan lain yang sepadan dengan idiom di atas, yakni:  arriver comme un cheveu sur la soupe dan un éléphant dans un magasin de porcelaine.

[Referensi]


Baca juga:
Ungkapan saat Lapar

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, ditemukan definisi bahwa kenapa merupakan ragam cakap dari kata tanya mengapa . Ke...

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, ditemukan definisi bahwa kenapa merupakan ragam cakap dari kata tanya mengapa. Kedua kata ini sama-sama digunakan sebagai kata tanya untuk menanyakan sebab, alasan atau tujuan dari sebuah keadaan/perbuatan.

Maka jawaban yang dikehendaki dari pertanyaan dengan menggunakan kata tanya di atas, yakni idealnya berupa penjelasan. Jawaban dapat berbentuk kalimat yang menerangkan tentang sebab atau alasan sebuah peristiwa yang terjadi. Hal ini ditandai dengan pemakaian konjungsi atau kata hubung ‘karena’ maupun ‘sebab’. Jika jawaban menunjukkan suatu aksi yang menjadi sasaran dari suatu perbuatan, dapat pula menggunakan kata hubung ‘agar’ atau ‘supaya’.

Contoh:
Mengapa Adi tidak datang? – Dia tidak hadir karena sakit.
Mengapa Kamu belajar bahasa Prancis? – Saya mempelajarinya agar bisa berkomunikasi dengan penduduk lokal ketika berkunjung ke Prancis.

Ungkapan “ Couper la poire en deux ” (Membagi dua sebuah pir) artinya melakukan kompromi; membagi suatu hal secara adil . Mengapa buah pir, ...

Ungkapan “Couper la poire en deux” (Membagi dua sebuah pir) artinya melakukan kompromi; membagi suatu hal secara adil.

Mengapa buah pir, bukan semangka atau kedondong?

Idiom ini diperkirakan muncul pada karya-karya sastra di Prancis tahun 1880-an. Persisnya pada 1882, Félix Galipaux dan Lucien Cressonnois dalam sebuah pertunjukan sketsa yang berjudul “La poire en deux” (Pir yang Terbagi Dua), mereka memerankan tokoh yang tengah berdebat karena memperebutkan sebuah naskah untuk dibacakan di atas panggung. Setelah pertengkaran yang sengit, salah satu dari mereka mengusulkan untuk membagi dua “buah pir” tersebut supaya setiap orang bisa membacakan bagiannya masing-masing. Pertunjukan tersebutpun berakhir dengan adegan perpisahan kedua tokoh, tanpa pembacaan naskah yang dipermasalahkan itu.

Jadi, karya sastra yang memengaruhi masyarakat untuk menggunakan ungkapan ini atau sebaliknya? Tidak ada yang tahu pasti akan jawabannya.

[Referensi]


Baca juga:
Ungkapan saat Lapar

Beberapa waktu lalu, seseorang bertanya di Quora Indonesia: "Sebagai orang asing, apa yang membuatmu terkejut tentang Indonesia?"...

turis terkejut

Beberapa waktu lalu, seseorang bertanya di Quora Indonesia: "Sebagai orang asing, apa yang membuatmu terkejut tentang Indonesia?" Hal ini telah membuat saya tertarik untuk membaca beberapa respon dari pengguna lain, serta melibatkan diri dalam diskusi tentang pertanyaan tersebut. Tema ini berkaitan dengan komunikasi antarbudaya yang memang berperan sekali dalam aplikasi bahasa sebagai alat komunikasi.

Tidak dapat dielakkan bahwa dalam pembelajaran bahasa asing, komunikasi antarbudaya ini pula dianggap sebagai salah satu keterampilan yang penting untuk dikuasai, bukan semata sebagai sebuah pengetahuan keilmuan. Kecakapan dalam komunikasi antarbudaya hendaknya melengkapi empat keterampilan berbahasa; yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Berikut ini adalah jawaban yang saya berikan atas pertanyaan yang diajukan tersebut, sekaligus melengkapi beberapa poin jawaban yang telah dipaparkan oleh pengguna yang lain.

Jelas, saya bukan orang asing. Namun untuk menjawab pertanyaan di atas, saya hendak membagi sedikit pengalaman mahasiswa saya di Paris (Prancis) ketika saya berkesempatan diundang untuk menjadi dosen tamu natif bahasa Indonesia di salah satu institut bahasa di sana.

Bisa jadi ini bukanlah sebuah representasi. Berdasarkan diskusi, berikut lima hal lainnya-karena fenomena "jam karet" sudah sangat familiar, yang telah mengejutkan kebanyakan orang Barat, dalam kasus ini khususnya menurut peserta didik saya yang merupakan para penutur bahasa Prancis (frankofon) yang berasal dari negara Prancis sendiri maupun dari Belgia dan Swiss:
  • Kebanyakan orang Indonesia menerima keadaan dirinya. Secara finansial seperti halnya di kebanyakan negara berkembang di dunia, masih banyak warga Indonesia yang hidup atau berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah. Pada situasi sulit sekalipun, kita masih dapat tersenyum terlihat bahagia, seolah pasrah dengan keadaan-bukan berarti kita tidak berusaha. Sementara itu, mereka melihat hidup ini sulit tanpa kerja keras, keseriusan, dan perjuangan.
  • Orang Indonesia selalu menerangkan rute ketika ada turis asing (orang Barat) yang menanyakan arah jalan di suatu kota, padahal mereka tidak tahu jawabannya. Sebetulnya, ini merupakan tata krama. Seperti kita ketahui, sangat sukar bahkan untuk menolak atau mengatakan “Tidak” secara langsung bagi kebanyakan orang Indonesia. Maka tidak heran, jika kita berusaha mencoba menerangkan arah yang ditanyakan seorang turis tatkala ditanya. Walaupun kita tidak tahu secara persis, setidaknya kita mencoba membantu. Hal ini secara budaya memang bertolak belakang dengan kebiasaan di Barat, di mana kita dapat dengan lugas menjawab, “Maaf, saya tidak tahu”.
  • Terkadang orang Indonesia dianggap mengganggu ranah pribadi mereka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya sangat personal, bahkan ketika belum saling kenal atau pada saat pertama kali bertemu. Misalnya, “Bapak/Ibu mau ke mana ?”. Sebuah pertanyaan basa-basi untuk membuka percakapan dengan penumpang lain yang duduk di jok sebelah kita ketika berada di dalam kereta atau pesawat. Sebenarnya, pertanyaan demikian dapat dijawab secara sembarang, tanpa harus jujur. Namun, hal ini telah membuat banyak kesalahpahaman terjadi di antara penutur bahasa Indonesia dan Prancis. Biasanya orang Barat membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan umum semisal cuaca. Pertanyaan sejenis lainnya yang dianggap tabu dilontarkan pada situasi yang sama: “Kamu sudah makan ?”, “Anda sudah menikah?”, “Apa agama Mas/Mbak?”, dsb.
  • Mereka juga menyatakan terkejut ketika mendapati bahwa tidak sedikit wanita Indonesia yang berkerudung, tetapi dengan pakaian yang (super) ketat hingga membentuk lekukan tubuh si pemakainya. Mereka pun berujar, “Ini hanya di Indonesia!”.
  • Jus alpukat!

Ilustrasi gambar dari situs 123rf.com.

Dalam suatu percakapan… X: Sepatu siapa yang nempel terus? Y: Sepatu loe yang gue kasih lem… X: Bukan! Y: Lalu? X: Sepatunya Rezza Arthamevi...

Dalam suatu percakapan…

X: Sepatu siapa yang nempel terus?
Y: Sepatu loe yang gue kasih lem…
X: Bukan!
Y: Lalu?
X: Sepatunya Rezza Arthamevia. Coba deh dengerin di video berikut:


Saya tahu ini hanya sebuah kelakar, terutama saat saya masih duduk di bangku SMA dulu. Sudah lama sekali, memang. Saya pun sadar betul jika kita sudah melewati pertengahan tahun 2018 dan ini menjadi sebuah lagu klasik. Semoga terhibur! Sekian.
Open-mouthed smile


Baca juga:
Belajar Bahasa sambil Berkaraoke

Kadang kala membahas topik jenjang pendidikan Prancis, kita menemukan dua istilah Magistère dan Master. Lantas apa perbedaannya? Apakah yang...

Kadang kala membahas topik jenjang pendidikan Prancis, kita menemukan dua istilah Magistère dan Master. Lantas apa perbedaannya? Apakah yang dimaksud adalah gelar Magister atau Strata 2 (S-2) dalam istilah pendidikan Indonesia?

Artikel ini saya sarikan dari penelusuran saya di Internet. Dari kata kunci yang saya gunakan, saya mendapatkan penjelasan singkat mengenai terminologi dua kata tersebut berdasarkan pemaparan Académie française [Referensi].

Académie française (pengucapan bahasa Prancis: [lakademi fʁɑ̃sɛz]), juga disebut Akademi Bahasa Prancis, adalah lembaga terpelajar Prancis yang menangani segala hal tentang bahasa Prancis. Akademi ini secara resmi didirikan tahun 1635 oleh Kardinal Richelieu, menteri kepala untuk Raja Louis XIII.” – Wikipedia

Pada tahun 1999, Académie française mengusulkan istilah magistère untuk memberi sebuah gelar kepada lulusan pendidikan pada siklus pertama dan kedua. Siklus yang dimaksud adalah setara sarjana (S-1) di Indonesia, yakni pendidikan yang ditempuh minimal dalam waktu tiga tahun dalam bidang ilmu profesional yang mencakup program perkuliahan dan magang. Istilah magistère ini pula dipakai pada waktu itu untuk memadankan istilah master dalam bahasa Inggris, seperti Master of Arts, Master of Economy, dsb. Dimasukkanlah istilah ini ke dalam semua kamus bahasa Prancis.

Sementara itu, pada tahun yang sama di semua negara yang tergabung dalam Uni Eropa, terjadi penyeragaman dalam berbagai aspek, termasuk dalam bidang pendidikan dan lulusannya. Maka, diambil istilah dari bahasa Prancis untuk menerangkan gelar lulusan antara jenjang sarjana (S-1) dan doktor (S-3), yaitu mastaire yang bisa juga ditulis mastère. Sebutan yang memang tidak sama dengan istilah magistère.

Lain dulu lain sekarang. Istilah yang dipakai di negara-negara Uni Eropa saat ini adalah master. Hal ini terjadi terutama karena adanya reformasi dalam dunia pendidikan tinggi yang pada akhirnya tercetus: licence-master-doctorat (sarjana-magister-doktor).

Walapun kita akan menemukan istilah magistère, mastaire, maupun mastère sekaligus dalam kamus bahasa Prancis, yang ketiganya sama-sama merujuk pada istilah master, tetapi Académie française tetap menyarankan penggunaan kata magistère sebelum adanya kesepakatan terbaru dalam hal ini.

Baca juga:
Mengapa Anda harus belajar bahasa Prancis?