Elga-Ahmad

Blog pribadi. Seorang pencinta bahasa & kopi krim!
#Didactique #FLE #BIPA #TICE #Interculturel #Grammaire

Ketika seseorang datang pada saat yang tidak tepat dan merusak suasana , kita bisa mengatakan, “ Il est bien arrivé comme un chien dans un j...

Ketika seseorang datang pada saat yang tidak tepat dan merusak suasana, kita bisa mengatakan, “Il est bien arrivé comme un chien dans un jeu de quille”.

Idiom ini digunakan pertama kali pada abad ke-16 ketika permainan boling (jeu de quille) sangat tren di masyarakat. Pada permainan tersebut, peserta harus menggelindingkan bola ke arah deretan pion. Coba Anda bayangkan hal yang terjadi jika seekor anjing tiba-tiba lewat di depan pemain yang hendak melempar bolanya dan merusak susunan pion! Kemudian pada akhir abad ke-20, sebuah film berjudul “Un chien dans un jeu de quilles“ (Seekor Anjing di Permainan Boling)diputar di banyak bioskop Prancis.

Ungkapan lain yang sepadan dengan idiom di atas, yakni:  arriver comme un cheveu sur la soupe dan un éléphant dans un magasin de porcelaine.

[Referensi]


Baca juga:
Ungkapan saat Lapar

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, ditemukan definisi bahwa kenapa merupakan ragam cakap dari kata tanya mengapa . Ke...

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, ditemukan definisi bahwa kenapa merupakan ragam cakap dari kata tanya mengapa. Kedua kata ini sama-sama digunakan sebagai kata tanya untuk menanyakan sebab, alasan atau tujuan dari sebuah keadaan/perbuatan.

Maka jawaban yang dikehendaki dari pertanyaan dengan menggunakan kata tanya di atas, yakni idealnya berupa penjelasan. Jawaban dapat berbentuk kalimat yang menerangkan tentang sebab atau alasan sebuah peristiwa yang terjadi. Hal ini ditandai dengan pemakaian konjungsi atau kata hubung ‘karena’ maupun ‘sebab’. Jika jawaban menunjukkan suatu aksi yang menjadi sasaran dari suatu perbuatan, dapat pula menggunakan kata hubung ‘agar’ atau ‘supaya’.

Contoh:
Mengapa Adi tidak datang? – Dia tidak hadir karena sakit.
Mengapa Kamu belajar bahasa Prancis? – Saya mempelajarinya agar bisa berkomunikasi dengan penduduk lokal ketika berkunjung ke Prancis.

Ungkapan “ Couper la poire en deux ” (Membagi dua sebuah pir) artinya melakukan kompromi; membagi suatu hal secara adil . Mengapa buah pir, ...

Ungkapan “Couper la poire en deux” (Membagi dua sebuah pir) artinya melakukan kompromi; membagi suatu hal secara adil.

Mengapa buah pir, bukan semangka atau kedondong?

Idiom ini diperkirakan muncul pada karya-karya sastra di Prancis tahun 1880-an. Persisnya pada 1882, Félix Galipaux dan Lucien Cressonnois dalam sebuah pertunjukan sketsa yang berjudul “La poire en deux” (Pir yang Terbagi Dua), mereka memerankan tokoh yang tengah berdebat karena memperebutkan sebuah naskah untuk dibacakan di atas panggung. Setelah pertengkaran yang sengit, salah satu dari mereka mengusulkan untuk membagi dua “buah pir” tersebut supaya setiap orang bisa membacakan bagiannya masing-masing. Pertunjukan tersebutpun berakhir dengan adegan perpisahan kedua tokoh, tanpa pembacaan naskah yang dipermasalahkan itu.

Jadi, karya sastra yang memengaruhi masyarakat untuk menggunakan ungkapan ini atau sebaliknya? Tidak ada yang tahu pasti akan jawabannya.

[Referensi]


Baca juga:
Ungkapan saat Lapar

Beberapa waktu lalu, seseorang bertanya di Quora Indonesia: "Sebagai orang asing, apa yang membuatmu terkejut tentang Indonesia?"...

turis terkejut

Beberapa waktu lalu, seseorang bertanya di Quora Indonesia: "Sebagai orang asing, apa yang membuatmu terkejut tentang Indonesia?" Hal ini telah membuat saya tertarik untuk membaca beberapa respon dari pengguna lain, serta melibatkan diri dalam diskusi tentang pertanyaan tersebut. Tema ini berkaitan dengan komunikasi antarbudaya yang memang berperan sekali dalam aplikasi bahasa sebagai alat komunikasi.

Tidak dapat dielakkan bahwa dalam pembelajaran bahasa asing, komunikasi antarbudaya ini pula dianggap sebagai salah satu keterampilan yang penting untuk dikuasai, bukan semata sebagai sebuah pengetahuan keilmuan. Kecakapan dalam komunikasi antarbudaya hendaknya melengkapi empat keterampilan berbahasa; yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Berikut ini adalah jawaban yang saya berikan atas pertanyaan yang diajukan tersebut, sekaligus melengkapi beberapa poin jawaban yang telah dipaparkan oleh pengguna yang lain.

Jelas, saya bukan orang asing. Namun untuk menjawab pertanyaan di atas, saya hendak membagi sedikit pengalaman mahasiswa saya di Paris (Prancis) ketika saya berkesempatan diundang untuk menjadi dosen tamu natif bahasa Indonesia di salah satu institut bahasa di sana.

Bisa jadi ini bukanlah sebuah representasi. Berdasarkan diskusi, berikut lima hal lainnya-karena fenomena "jam karet" sudah sangat familiar, yang telah mengejutkan kebanyakan orang Barat, dalam kasus ini khususnya menurut peserta didik saya yang merupakan para penutur bahasa Prancis (frankofon) yang berasal dari negara Prancis sendiri maupun dari Belgia dan Swiss:
  • Kebanyakan orang Indonesia menerima keadaan dirinya. Secara finansial seperti halnya di kebanyakan negara berkembang di dunia, masih banyak warga Indonesia yang hidup atau berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah. Pada situasi sulit sekalipun, kita masih dapat tersenyum terlihat bahagia, seolah pasrah dengan keadaan-bukan berarti kita tidak berusaha. Sementara itu, mereka melihat hidup ini sulit tanpa kerja keras, keseriusan, dan perjuangan.
  • Orang Indonesia selalu menerangkan rute ketika ada turis asing (orang Barat) yang menanyakan arah jalan di suatu kota, padahal mereka tidak tahu jawabannya. Sebetulnya, ini merupakan tata krama. Seperti kita ketahui, sangat sukar bahkan untuk menolak atau mengatakan “Tidak” secara langsung bagi kebanyakan orang Indonesia. Maka tidak heran, jika kita berusaha mencoba menerangkan arah yang ditanyakan seorang turis tatkala ditanya. Walaupun kita tidak tahu secara persis, setidaknya kita mencoba membantu. Hal ini secara budaya memang bertolak belakang dengan kebiasaan di Barat, di mana kita dapat dengan lugas menjawab, “Maaf, saya tidak tahu”.
  • Terkadang orang Indonesia dianggap mengganggu ranah pribadi mereka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya sangat personal, bahkan ketika belum saling kenal atau pada saat pertama kali bertemu. Misalnya, “Bapak/Ibu mau ke mana ?”. Sebuah pertanyaan basa-basi untuk membuka percakapan dengan penumpang lain yang duduk di jok sebelah kita ketika berada di dalam kereta atau pesawat. Sebenarnya, pertanyaan demikian dapat dijawab secara sembarang, tanpa harus jujur. Namun, hal ini telah membuat banyak kesalahpahaman terjadi di antara penutur bahasa Indonesia dan Prancis. Biasanya orang Barat membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan umum semisal cuaca. Pertanyaan sejenis lainnya yang dianggap tabu dilontarkan pada situasi yang sama: “Kamu sudah makan ?”, “Anda sudah menikah?”, “Apa agama Mas/Mbak?”, dsb.
  • Mereka juga menyatakan terkejut ketika mendapati bahwa tidak sedikit wanita Indonesia yang berkerudung, tetapi dengan pakaian yang (super) ketat hingga membentuk lekukan tubuh si pemakainya. Mereka pun berujar, “Ini hanya di Indonesia!”.
  • Jus alpukat!

Ilustrasi gambar dari situs 123rf.com.

Dalam suatu percakapan… X: Sepatu siapa yang nempel terus? Y: Sepatu loe yang gue kasih lem… X: Bukan! Y: Lalu? X: Sepatunya Rezza Arthamevi...

Dalam suatu percakapan…

X: Sepatu siapa yang nempel terus?
Y: Sepatu loe yang gue kasih lem…
X: Bukan!
Y: Lalu?
X: Sepatunya Rezza Arthamevia. Coba deh dengerin di video berikut:


Saya tahu ini hanya sebuah kelakar, terutama saat saya masih duduk di bangku SMA dulu. Sudah lama sekali, memang. Saya pun sadar betul jika kita sudah melewati pertengahan tahun 2018 dan ini menjadi sebuah lagu klasik. Semoga terhibur! Sekian.
Open-mouthed smile


Baca juga:
Belajar Bahasa sambil Berkaraoke

Kadang kala membahas topik jenjang pendidikan Prancis, kita menemukan dua istilah Magistère dan Master. Lantas apa perbedaannya? Apakah yang...

Kadang kala membahas topik jenjang pendidikan Prancis, kita menemukan dua istilah Magistère dan Master. Lantas apa perbedaannya? Apakah yang dimaksud adalah gelar Magister atau Strata 2 (S-2) dalam istilah pendidikan Indonesia?

Artikel ini saya sarikan dari penelusuran saya di Internet. Dari kata kunci yang saya gunakan, saya mendapatkan penjelasan singkat mengenai terminologi dua kata tersebut berdasarkan pemaparan Académie française [Referensi].

Académie française (pengucapan bahasa Prancis: [lakademi fʁɑ̃sɛz]), juga disebut Akademi Bahasa Prancis, adalah lembaga terpelajar Prancis yang menangani segala hal tentang bahasa Prancis. Akademi ini secara resmi didirikan tahun 1635 oleh Kardinal Richelieu, menteri kepala untuk Raja Louis XIII.” – Wikipedia

Pada tahun 1999, Académie française mengusulkan istilah magistère untuk memberi sebuah gelar kepada lulusan pendidikan pada siklus pertama dan kedua. Siklus yang dimaksud adalah setara sarjana (S-1) di Indonesia, yakni pendidikan yang ditempuh minimal dalam waktu tiga tahun dalam bidang ilmu profesional yang mencakup program perkuliahan dan magang. Istilah magistère ini pula dipakai pada waktu itu untuk memadankan istilah master dalam bahasa Inggris, seperti Master of Arts, Master of Economy, dsb. Dimasukkanlah istilah ini ke dalam semua kamus bahasa Prancis.

Sementara itu, pada tahun yang sama di semua negara yang tergabung dalam Uni Eropa, terjadi penyeragaman dalam berbagai aspek, termasuk dalam bidang pendidikan dan lulusannya. Maka, diambil istilah dari bahasa Prancis untuk menerangkan gelar lulusan antara jenjang sarjana (S-1) dan doktor (S-3), yaitu mastaire yang bisa juga ditulis mastère. Sebutan yang memang tidak sama dengan istilah magistère.

Lain dulu lain sekarang. Istilah yang dipakai di negara-negara Uni Eropa saat ini adalah master. Hal ini terjadi terutama karena adanya reformasi dalam dunia pendidikan tinggi yang pada akhirnya tercetus: licence-master-doctorat (sarjana-magister-doktor).

Walapun kita akan menemukan istilah magistère, mastaire, maupun mastère sekaligus dalam kamus bahasa Prancis, yang ketiganya sama-sama merujuk pada istilah master, tetapi Académie française tetap menyarankan penggunaan kata magistère sebelum adanya kesepakatan terbaru dalam hal ini.

Baca juga:
Mengapa Anda harus belajar bahasa Prancis?

Selama Perang Dunia Pertama, kosakata bahasa Prancis memiliki perkembangan yang pesat, terutama ditandai dengan banyaknya penyerapan kata da...

Selama Perang Dunia Pertama, kosakata bahasa Prancis memiliki perkembangan yang pesat, terutama ditandai dengan banyaknya penyerapan kata dan istilah yang berasal dari jargon para tentara perang.

Pada masa itu, Charles Baudelaire untuk pertama kalinya yang membuat ungkapan avoir le cafard dalam karya puisinya berjudul Destruction yang dimuat dalam kumpulan puisi Les fleurs du mal (1857). Untuk menggambarkan sebuah keadaan sedih yang luar biasa, ia mengibaratkan seekor serangga berwarna gelap yang hidup dalam kegelapan. Maka, ia terpikir untuk menggunakan kiasan tersebut dengan citra seekor kecoa (cafard : n.m.). Sejak saat itu, banyak tentara terutama yang berasal dari Afrika, yang menggunakan ungkapan avoir le cafard tersebut untuk menyatakan keadaan mereka yang memang terisolasi karena kekacauan perang yang terjadi, bak seekor kecoa.  

Rujukan lain menyatakan bahwa kata cafard diadaptasi dari kata kafr (bahasa Arab). Kata tersebut mengandung banyak makna (polisemi): orang yang tidak beriman; pengadu; kecoa; kemurungan.

Ungkapan serupa yakni avoir le bourdon, yang diduga muncul tahun 1915. 

Bourdon (n.m.) adalah seekor binatang sejenis serangga yang mirip lebah besar dengan nama Latin, Bombus. Kita mengenalnya dalam bahasa Inggris sebagai Bumblebee. Serangga ini berwarna gelap dan dapat mengeluarkan suara khasnya yang berat juga berdengung ketika terbang. 

Maka, ungkapan avoir le cafard maupun avoir le bourdon sama-sama dapat diartikan sebagai idiom yang menyatakan keadaan seseorang ketika tengah dirundung kegelisahaan, sedih hati yang dalam, kegalauan, ...

Contoh kalimat: “Je ne peux pas me concentrer aujourd'hui; J'ai le cafard.”

[Referensi 12]

Si Lebah yang Galau

Ketika membuat sebuah daftar dengan menggunakan bilangan bertingkat (angka ordinal) dalam bahasa Prancis, terdapat dua opsi untuk menunjukka...

Ketika membuat sebuah daftar dengan menggunakan bilangan bertingkat (angka ordinal) dalam bahasa Prancis, terdapat dua opsi untuk menunjukkan urutan kedua, yaitu: second(e) atau deuxième. Keduanya sama-sama diartikan sebagai “kedua” dalam bahasa Indonesia. Namun, penggunaannya secara prinsip tidaklah sama.

Begini aturannya:

  • Gunakan setiap kali kata second –seconde untuk kata benda féminin yang mengikutinya, jika urutan tersebut berhenti pada posisi kedua. Artinya, tidak ada lagi bilangan berikutnya.   
  • Sedangkan deuxième dipakai ketika terdapat bilangan ketiga, keempat, kelima, dst.

Namun demikian, Académie française (Akademi Bahasa Prancis) tidak mewajibkan aturan ini secara ketat kecuali pada konteks yang secara logis mengharuskannya. Misalnya pada kata seconde main, seconde nature, … termasuk pada istilah Seconde Guerre mondiale, karena tidak ada Perang Dunia Ketiga!

On peut, par souci de précision et d’élégance, réserver l’emploi de second aux énoncés où l’on ne considère que deux éléments, et n’employer deuxième que lorsque l’énumération va au-delà de deux. Cette distinction n’est pas obligatoire.” – Académie française 

Menurut pendapat saya pribadi, sebagai pembelajar, sebaikanya kita tetap mengacu pada aturan dasar tata bahasa Prancis terkait penggunaan kata second(e) dan deuxième ini sebelum ada aturan terbaru yang membakukannya.

Beberapa minggu sebelum ujian sidang tahun lalu, saya diundang pemilik apartemen yang saya tempati untuk minum kopi di rumahnya. “Bagaimana ...

Beberapa minggu sebelum ujian sidang tahun lalu, saya diundang pemilik apartemen yang saya tempati untuk minum kopi di rumahnya.

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya dia penasaran. “Semua baik-baik saja dan saya baru saja diberi tahu direktur penelitian, bahwa ujian akan dijadwalkan setelah libur musim panas.”, jawab saya ringkas. Dengan spontan, dia lalu bersorak, “Bientôt la quille!”.

Melihat kening saya berkerut, iapun menjelaskan ungkapan idiomatis tersebut.

Quille (n.f.) dapat diartikan sebagai pion yang dilempari bola dengan cara digelindingkan pada permainan boling –Le jeu de quilles, dalam bahasa Prancis. Namun dalam ungkapan ini, la quille yang dimaksud ialah sebuah benda setinggi sekitar setengah meter yang diberikan kepada seseorang yang dinyatakan berhasil menyelesaikan tugasnya dalam program wajib militer. Biasanya, pion diberikan pada saat acara perayaan dengan minum-minum. Pion ini lebih menyerupai piala yang dibuat dari kayu dengan motif ukiran tertentu. Setelah beratnya tugas yang harus dijalankan, peserta wajib militer akhirnya dapat kembali pulang dan menjalani rutinitasnya lagi dalam kehidupan normal.

Bientôt la quille!” diungkapkan kepada /oleh seseorang yang dalam waktu dekat akan segera bebas dari tugasnya yang selama ini menjadi beban.