Elga-Ahmad

Blog pribadi. Seorang pencinta bahasa & kopi krim!
#Didactique #FLE #BIPA #TICE #Interculturel #Grammaire

Anda pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut: Merci de votre attention, Merci pour ton aide, Merci pour venir à l’heure, Merci d’être...

“merci pour” atau “merci de”?

Anda pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut: Merci de votre attention, Merci pour ton aide, Merci pour venir à l’heure, Merci d’être venu,

Kata merci digunakan untuk mengucapkan terima kasih kepada lawan tutur. Hal yang menjadi persoalan yakni penggunaan preposisi atau kata depan yang mengikuti kata tersebut; merci pouratau merci de… Keduanya memang dapat dipadankan maknanya dalam bahasa Indonesia dengan kata depan untuk (Terima kasih untuk …) atau bahkan tidak diberikan terjemahannya (luluh), seperti pada kalimat: Merci d’être venu. (Terima kasih telah datang.)

Penjelasan ini saya buat berdasarkan pada artikel Le Figaro yang diterbitkan pertama kali pada Juli 2017 lalu dan sempat diperbarui [Referensi]. Memang, Académie française (Akademi Bahasa Perancis) selaku lembaga resmi yang menangani segala hal tentang bahasa Prancis di negara keju tersebut, hingga saat ini belum memberikan rekomendasi terkait hal ini. Sehingga pertanyaan yang menjadi judul artikel ini pun masih menjadi polemik di antara penutur bahasa Prancis itu sendiri. Faktanya, saya mendapati penjelasan yang bertolak belakang dengan pemaparan Le Figaro, pada situs web La langue française [Referensi].

Adapun saya mengambil rujukan sepenuhnya untuk tulisan ini berdasarkan artikel Le Figaro, karena alasan; kelogisan deskripsinya, keterbaruan artikelnya, serta kredibilitas media tersebut.

Kata merci bisa diikuti oleh kata kerja utuh (infinitif) yang selalu diikuti oleh preposisi de. Misalnya, “Merci de m'écouter.” Namun, kita dapat pula menggunakan pola merci pour yang diikuti juga oleh kata kerja utuh pada konteks yang mengindikasikan kala akan datang (futur). Kata kerja yang digunakan belum sepenuhnya dikerjakan. Contohnya pada kalimat “Merci pour votre attention”, yakni ketika penutur mengharapkan perhatian (attention) dari pihak lawan tuturnya.

Maka, pola merci de digunakan pada keadaan sebaliknya yaitu ketika aksi (kata kerja) sudah selesai dilakukan. Misalnya pada akhir pidato, seorang pembicara mengucapkan, “Merci de votre attention.” untuk menyampaikan terima kasih kepada hadirin atas perhatiannya selama ia berbicara.

Namun demikian, Girodet –seorang leksikograf Prancis, menyatakan bahwa struktur merci de merupakan bentuk ragam bahasa resmi.

Merci d’avoir consulté mon blog, alors! Winking smile

0 comments: